klik here

Bagaimana Aku Melihat ALLAH




Dahulu kala ada seorang laki-laki baik budi bahasanya, bersih hatinya. Dia dikaruniai seorang anak laki-laki yg sangat cerdas dan pandai berbicara. Pada suatu hari mereka duduk berdua, berbincang-bincang seakan-akan mereka saling berteman tak ada umur yg membedakan. Mereka saling berpengertian didalam bertukar pikiran mengenai hakekat alam.
Hari itu dia melihat kepada anaknya dan berkata, “Terima kasihku kepada ALLAH sangat besar anakku, dan engkau bagiku merupakan nikmat dari-NYA yg dilimpahkan kepadaku”
“Ayah selalu saja berbicara tentang ALLAH. Ayah cobalah perlihatkan padaku seperti apa ALLAH itu?” anak itu minta keterangan
“Apa yg kau katakan barusan?” Sang ayah tiba-tiba kebingungan. Dia kini memikirkan bagaimana seharusnya dia menjawab pertanyaan seperti itu. Diam sejenak, lalu berkata kepada anaknya, “Kau mau saya memperlihatkan ALLLAH kepadamu?”
“Ya ayah, aku ingin melihat ALLAH”
“Bagaimana saya bisa memperlihatkan apa yg belum pernah saya lihat, anakku?”
“Mengapa ayah, mengapa ayah belum pernah melihat-NYA”
“Sebab selama ini saya belum pernah memikirkan-NYA”
“Lalu bagaimana kalau ayah mencarikan-NYA untuk saya lihat nanti bila sudah diketemukan?” anak itu mendesak.
“Ya anakku, saya akan pergi mencari-NYA”
Laki-laki itu bangun dari tempat duduknya. Keluar rumah dan berkeliling ke seluruh pelosok kota menanyakan perihal pertanyaan yg diajukan sang anak kepadanya. Namun sia-sia dan bahkan orang-orang memperolok-olokannya. Mereka tidak mempunyai waktu untuk memikirkan tentang ALLAH, mereka telah sibuk dengan urusan dunia.
Laki-laki itu kemudian pergi mendatangi pemuka-pemuka agama. Tapi tak seorangpun diantara mereka yg sanggup menjawab pertanyaannya. Dia keluar dari rumah mereka dg perasaan putus asa. Berjalan menelusuri jalan-jalan kota menundukkan kepala tentang ALLAH, sambil bertanya-tanya dirinya sendiri, “Haruskah aku kembali pulang ke rumah dengan tangan hampa dan bahkan dengan perasaan putus asa?”
Akhirnya dia bertemu dg seorang Syeikh yg kemudian menyarankan kepadanya untuk pergi ke ujung kota, “Disana ada seorang pertapa tua yg akan sanggup menjawab pertanyaan yg diajukan kepadanya. Mungkin disana saudara bisa menanyakan apa saja yg saudara inginkan”
Ketika itu pula laki-laki itu langsung berjalan menuju ke ujung kota, menemui sang pertapa.
“Saya mendatangi bapak dg harapan dapat memperoleh apa yg saya inginkan tanpa sia-sia”, kata laki-laki itu.
Sang pertapa mengangkat mukanya, lalu berkata dg nada dalam dan merdu, “Katakan apa yg kau hajatkan”
“Pertapa yg baik hati, saya ingin sekali bapak memperlihatkan ALLAH kepadaku”.
Pertapa tua itu berpikir sejenak sambil memegang kumisnya yg uban, “Apakah engkau mengerti apa yg engkau katakan?” tanya sang pertapa.
“Ya, saya ingin bapak memperlihatkan ALLAH kepada saya”
“Hai, laki-laki. ALLAH tidaklah dapat dilihat dg alat penglihatan kita, tidak pula dapat diketahui dg indera kita. Adakah engkau dapat menembus laut dg hanya mempergunakan telunjuk yg Cuma bisa dipergunakan untuk menembus air dalam gelas?” suara pertapa itu mantap dan jelas.
“Jadi bagaimana saya akan bisa melihat-NYA?”
“Engkau dapat melihat-NYA apabila DIA telah membuka rohmu”
“Bagaimana caranya supaya DIA membuka rohku?”
“DIA hanya akan membuka rohmu apabila engkau benar-benar mencintai-NYA”
Laki-laki itu lalu bersujud dan mengambil tangan sang pertapa. Lalu berkata, “Wahai pertapa yg sholeh dan baik hati. Tolong mintakan kepada ALLAH agar DIA memberiku sebagian dari kecintaan-NYA”
“Tunduk patuhlah, wahai laki-laki. Lalu minta paling sedikitnya yg sedikit!” kata sang pertapa sambil menarik tangannya pelan-pelan.
“Saya minta sebanyak satu dirham dari kecintaan-NYA”
“Ooo. Itu terlalu rakus, satu dirham itu banyak, banyak sekali”
“Ya, seperempat dirham saja”
“Rendahkanlah dirimu, rendahkanlah”
“Sebesar biji sawi dari kecintaan-NYA”
“Itu masih banyak”
“Ya, setengah biji sawisajalah”
“Silahkan,mungkin bisa”
Seorang pertapa mengangkat ke langit dan berkata, “Ya ALLAH, berilah dia setengah biji sawi dari kecintaan-MU. Berilah ya ALLAH..”
Laki-laki itu bagun dari tempat duduknya dan pergi. Berhari-hari sudah dia keluar rumah. Keluarga laki-laki mendatangi sang pertapa dan mengatakan kepadanya bahwa laki-laki itu belum juga pulang ke rumah. Dia bersembunyi dan tak seorang pun mengetahuinya.
Sang pertapa itu bangun dari tempat duduknya. Dengan gelisah mereka bersama-sama mencari laki-laki yg ingin melihat ALLAH itu. Lalu mereka bertemu dengan beberapa orang penduduk kota mengatakan bahwa laki-laki itu kini sudah gila dan pergi ke sebuah gunung. Mereka pun bersama-sama mendatangi gunung. Dan tiba-tiba terlihat seorang laki-laki sedang berdiri diatas sebuah batu besar. Mereka mendekatinya. Dan benar, dia adalah laki-laki yg sedang mencari ALLAH, yg sedang menatap langit. Mereka menyapanya dg salam. Tapi dia tidak menjawabnya. Sang pertapa maju ke depan dan berkata, “Lihatlah padaku. Aku adalah pertapa yg kau datangi kemarin”
Laki-laki itu tidak juga bergerak. Dan anaknya yg kemarin bertanya tentang ALLAH maju dg hati ragu penuh kekhawatiran, “Ayah, tidakkah ayah kenal aku?” usahanya gagal. Laki-laki itu tetap tidak bergerak. Kemudian semua keluarganya berusaha agar laki-laki itu sadar kembali, lalu laki-laki itu tetap memandang ke angkasa sambil berkata,
“Jangan ganggu, Bagaimana orang yg telah mempunyai kecintaan ALLAH yg bersemayam di hatinya dapat mendengar pembicaraan manusia?! Demi ALLAH, seandainya kalian memotong tubuhnya dengan gergaji, niscaya dia tidak akan merasakan bahwa dirinya dipotong-potong oleh manusia”
Anaknya lalu berteriak, “Dosanya karena aku. Akulah yg meminta kepadanya untuk memperlihatkan ALLAH kepadaku.
Sang pertapa menoleh kepadanya, seakan-akan dia berbicara kepada dirinya sendiri :
“Adakah engkau lihat? Tidakkah engkau saksikan bahwa setengah besar biji sawi dari kecintaan dan cahaya ALLAH cukup untuk menghancurkan susunan tubuh dan akal pikiran kita”
Maha suci ALLAH dengan segala firman-NYA :
“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.” Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.” (Al A’raaf 143)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar